| Publikasi: 14/07/2004
09:30 WIB
eramuslim
- Konferensi Pro-Hijab yang berlangsung Senin (12/7) kemarin di
ibukota Inggris, London, berakhir dengan sebuah petisi dukungan terhadap
jilbab. Seluruh peserta konferensi juga sepakat menetapkan hari
solidaritas jilbab internasional, dan rencana aksi untuk tetap membela
hak wanita Muslim mempertahankan busana taqwa mereka.
Mengambil tema “Assembly for the Protection of Hijab (Majelis Untuk
Perlindungan Hijab), konferensi pada kesempatan itu mendeklarasikan,
bahwa 4 September 2004 sebagai International Hijab Solidarity Day (Hari
Solidaritas Jilbab Internasional). Karena para mahasiswa/pelajar Muslim
di seluruh Eropa akan kembali ke sekolah pada saat itu.
Para peserta juga bersumpah akan tetap berjuang membela para gadis muda
Muslim yang mendapat perlakuan diskriminatif masyarakat barat hanya
lantaran jilbab mereka.
Selanjutnya konferensi mencetuskan rencana aksi untuk mengokohkan
rekomendasi-rekomendasi konferensi pro-hijab London tersebut. Di
antaranya dengan menyerukan para kaum terpelajar tentang pentingnya
hijab bagi wanita Muslim, melalui seminar-seminar dan publikasi
media-media massa.
Organisasi Pro-Hijab, sebagai pihak penyelenggara konferensi, juga telah
mendaftarkan agenda mereka di Parlemen Eropa, untuk bisa memberikan
presentasi tentang hijab pada 22 September mendatang.
Koordinator Pro-Hijab, Abeer Pharaoh, mengungkapkan pada IslamOnline.net
(IOL), bahwa seluruh peserta konferensi telah membahas soal “larangan
hijab, implikasi dan dampaknya terhadap masyarakat Eropa.” Mereka juga
bersepakat akan mengorganisir upaya-upaya individu dan
organisasi-organisasi di Eropa, serta di seluruh dunia, untuk
mempertahankan hak berjilbab bagi wanita Muslim.
Abeer juga menggarisbawahi, bahwa “majelis hijab telah menerima dukungan
banyak organisasi-organisasi Muslim maupun non-Muslim dari berbagai
keyakinan dan komunitas yang berbeda.” Dukungan, lanjutnya, juga
mengalir dari sejumlah anggota parlemen Inggris dan parlemen Eropa.
“Kampanye ini bukan hanya untuk wanita Muslim semata. Aksi ini ditujukan
bagi siapa saja yang percaya bahwa merupakan hak seorang wanita Muslim
untuk bisa mengenakan jilbabnya tanpa perlakuan diskriminatif dari
masyarakat maupun pemerintahnya.”
Konferensi yang dibuka walikota London, Ken Livingstone itu, diikuti 300
delegasi, mewakili 102 organisasi-organisasi Inggris dan internasional.
Konferensi juga menampilkan tokoh-tokoh Muslim terkemuka seperti Sheikh
Yusuf Al-Qaradawi dan Profesor Tariq Ramadan.
Mengomentari pelarangan hijab di sejumlah negara Eropa, termasuk
Perancis, Livingstone mengatakan, “Warga Muslim London harus tidak boleh
menghadapi situasi serupa.”
Dia menegaskan, bahwa “yang mengambil keuntungan dari larangan berjilbab,
hanyalah kelompok ekstrimis kanan dan kaum fasis.” Sebelumnya, lanjut
Livingstone, target serangan kelompok itu adalah orang-orang hitam
(Negro), Yahudi, dan komunis.
“Jika kami membiarkan serangan terhadap Islam terjadi, saya tahu siapa
yang akan menjadi sasaran tembak dan korban berikutnya,” cetus
Livingstone.
Ini bukan yang pertama kali Livingstone menjadi tuan rumah Konferensi
Hijab, yang telah menjadi isu sentral di Eropa belakangan ini. Februari
silam, dia membela dengan gigih hak-hak wanita Muslim mengenakan jilbab,
dengan mengirimkan “isyarat baik” ke negara-negara Eropa, khususnya
Perancis.
Livingstone mengirim sepucuk surat pada PM Perancis, Jean Pierre
Raffarin. Isinya, mendesak Raffarin untuk menimbang kembali larangan
terhadap kebebasan praktek beragama yang prinsipil di Perancis.
Dalam surat itu Livingstone menggarisbawahi, bahwa bentuk diskriminasi
apapun terhadap kebebasan beragama Muslim akan berdampak negatif pada
mereka.
Selama berlangsung konferensi Pro-Hijab Senin kemarin, Livingstone
bersumpah, bahwa penempatan tenaga kerja di London, tidak akan didasari
pada latar belakang etnis maupun agama. (stn/iol)
|